DIGITALISASI DALAM PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Sebagai Guru Penting bagi kita untuk menyadari bahwa ketika siswa masuk ke dalam kelas, bukanlah ibarat seperti selembar kertas putih yang kosong, tetapi ada yang mereka bawa kedalam kelas. Apakah itu kesiapan belajar, profil belajar, maupun minat nya. Ini lah yang terkadang tidak kita akomodir dalam proses pembelajaran. kita cenderung menerapkan satu cara atau strategi yang sama untuk semua siswa atau bisa kita sebut menerapkan prinsip equality (sama). Idealnya adalah kita menerapkan prinsip equity (adil). Sama belum tentu adil. Sebagai contoh misalnya, ketika kita memberikan uang jajan yang sama untuk anak-anak kita yang SD, SMP dan SMA. Tindakan tersebut bukanlah tindakan yang adil. Yang adilnya adalah memberikan uang jajan yang berbeda karena kebutuhan mereka berbeda. Contoh lain misalnya ketika dokter memberikan obat yang sama kepada banyak orang untuk penyakit yang berbeda. Tentu ini tidak ideal, idealnya adalah memberikan obat yang berbeda untuk penyakit yang berbeda. Begitu juga guru memiliki siswa yang masalahnya berbeda. Sehingga perlakuannya terhadap siswa dalam proses pembelajaran tersebut haruslah berbeda juga. Sebagai contoh, ketika proses pembelajaran siswa memiliki tingkat kesiapan belajar yang berbeda. Kalau kita analogikan dalam sebuah perjalanan, siswa memiliki titik berangkat yang berbeda. Ada siswa baru memulai perjalanannya, ini sebagai gambaran siswa yang belum paham. Ada juga siswa yang titik berangkatnya sudah di tengah perjalanan, ini gambaran siswa yang paham sebagian, namun ada juga siswa yang titik berangkatnya sudah mendekati titik tujuan. Ini gambaran siswa yang paham utuh. 3 (tiga) gambaran kondisi siswa tersebut hendaknya kita sebagai guru haruslah mengetahui dan memahami permasalahan siswa tersebut, cara kita untuk mengetahuinya adalah melalui kegiatan asesmen di awal pembelajaran. Dari hasil asesmen awal itulah, kemudian kita jadikan dasar dalam pelaksanaan pembelajaran, tentu cara atau strategi yang kita gunakan untuk ketiga kelompok siswa tersebut adalah strategi yang berbeda baik itu untuk siswa yang belum paham, paham sebagian, dan paham utuh. Kegiatan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan siswa inilah yang kemudian dikenal dengan istilah pembelajaran berdiferensiasi.

Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada 3 (tiga) strategi yang bisa kita gunakan, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Pengalaman yang pernah saya lakukan adalah diferensiasi proses bisa kita terapkan berdasarkan kesiapan belajar yakni siswa belum paham, paham utuh, dan paham sebagian diberikan dengan strategi kegiatan berjenjang, dimana dalam kegiatan ini siswa mengkonstruksi pemahaman yang sama akan tetapi dilakukan dengan tantangan, kompleksitas dan tingkat dukungan yang tidak sama. Diferensiasi produk bisa kita terapkan dengan berdasarkan minat siswa. misalnya siswa diberikan keleluasaan dalam menampilkan atau mempresentasikan karyanya, bisa dalam bentuk gambar, diagram, infografis, dll. Untuk diferensiasi konten atau materi, bisa diterapkan berdasarkan gaya belajar siswa. dalam kegiatan ini perlu dingat bahwa siswa tidak dikelompokkan kedalam gaya belajar, akan tetapi siswa diberikan keleluasan memilih satu atau semua format penyajian materi yang telah disiapkan oleh guru. Pengelompokan siswa berdasarkan gaya belajar hendaknya tidak dilakukan karena gaya belajar layaknya seperti hobi atau minat yang bisa berubah-ubah. Kemudian pengelompokkan siswa berdasarkan gaya belajar dikhawatirkan memunculkan stigma bahwa hal tersebut adalah kepribadian atau suatu hal yang tidak bisa diubah pada diri siswa tersebut. sementara yang kita harapkan adalah siswa memiliki banyak preferensi cara belajar. Dalam diferensiasi konten guru bisa menyiapkan penyajian materi yang bervariasi, seperti misalnya menggunakan teknologi dalam penyajian materi misalnya penyajian materi dalam audio pembelajaran, video pembelajaran, media animasi, game edukasi. media Augmented Reality. dll. Penggunaan teknologi seperti ini penting untuk dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Durasi konsentrasi siswa dalam mengikuti pelajaran mungkin hanya sekitar 10 menit pertama saja. Setelah itu konsentrasi menurun, sehingga perlu strategi yang bisa meningkatkan minat belajar siswa, salah satunya adalah pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Salah satu alasan mendasar pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran adalah karena siswa merupakan generasi Z dan generasi Alpha yang dekat dengan teknologi. Kebanyakan siswa kesehariannya dekat dengan dawainya, berkomunikasi dengan media sosialnya. Sehingga sebagai guru hendaknya melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kodrat zaman. Sekarang zamannya teknologi maka penting bagi guru untuk menerapkan proses pembelajaran dengan mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Peran guru memang tidak bisa tergantikan dengan teknologi, akan tetapi dengan teknologi membantu guru dalam membuat pendidikan lebih transformatif.

Ada banyak media pembelajaran berbasis teknologi yang bisa kita terapkan, baik itu yang sudah ada di webiste seperti web rumah belajar maupun media pembelajaran yang bisa kita buat dan kembangkan sendiri seperti media yang pernah saya buat yaitu game edukasi yang dapat di mainkan di website https://guruinovasi.com/game/. Penerapan pembelajaran dengan game edukasi yang pernah saya lakukan ternyata dapat menarik minat siswa. hal ini terlihat dari antusiasme dan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran. contoh lain karya inovasi saya adalah media pembelajaran interaktif terintegrasi dengan google site yang bisa diakses dengan url: https://sites.google.com/guru.smp.belajar.id/inovatif , Dalam pembuatan dan penerapan karya inovasi ini tentu memiliki banyak hambatan dan tantangan. Akan tetapi kita harus menyadari bahwa kita harus berani keluar dari zona nyaman. โ€œTidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman dan tidak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhanโ€. Artinya adalah kita tidak akan tumbuh dan berkembang jika kita tidak keluar zona nyaman. Dan kita juga harus menyadari bahwa ketika berada pada zona pertumbuhan maka bersiaplah untuk lelah, bersiaplah untuk tidak nyaman. Karena hal tersebut adalah konsekuensi untuk menuju keberhasilan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

About

Terima kasih sudah berkunjung ke website guru inovasi. konten dalam website ini juga terdapat dalam youtube @adecandra7437

Tags

Gallery